[Orifict] End & Erase

7c84a74c957fa7268c1ea63adc886205

Written by AirlyAeri © 20170406

Slice of life, marriage life

#np_Jin_Gone

.

Ia menyerah, tetapi untuk mendeklarasikannya begitu sulit.

Sore hari, warna jingga milik senja mulai menguasai langit. Rintik air hujan masih terdengar seirama seiring awan abu-abu kelam bergerak pergi. Aroma khas hujan pun masih sibuk menguar mengikuti situasi jalanan yang begitu lalu-lalang lantaran sudah memasuki akhir pekan.

Sepasang manusia dewasa kini berdiri berhadapan dan saling menatap dengan kanopi sebuah toko bridal pernikahan sebagai peneduh dari rintik hujan yang masih sesekali datang. Tatapan mereka seolah berbicara di tengah kebisuan yang mendera, tatapan yang menyiratkan kesuraman.

Pria itu menatap lurus wanita di depannya dan berkata, “Bicaralah, Bianca.”

Nada bicara pria itu begitu dingin, mengalahkan rasa menggigil kulit ulah udara musim gugur meski mantel si perempuan telah merapat menghalanginya. Membuat si wanita itu masih menatap pria di depannya, sebelum berdeham dan menunduk. “Kupikir kita sudah melewati banyak hal, Tom. Ini sudah dua tahun.”

Tom Harrison berujar tanpa mengalihkan pandangannya. “Dua tahun bukanlah waktu yang singkat.”

Keheningan mulai menyusup di antara mereka lantaran sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Dua tahun.

Tepat dua tahun, seorang perempuan bernama Bianca bertemu dengan sosok pria komposer handal. Tom Harrison namanya. Selama hidup pun Bianca tak pernah mengenal kata menyesal atas perkenalan lampaunya dengan pria di hadapannya kini. Meski sekarang Bianca memang harus bergerak.

“Dan kau pun tahu itu,” ucap Bianca. “Mau sampai kapan menghindar?”

Siapa yang menghindar? Tidak ada, batin Bianca berbicara. Ini hanya bagian dari kesalahannya.

Mencoba menoleh ke belakang dan mengulas memori bak sisa rol film yang telah usang. Pertemuan pertama dengan Tom Harisson di kedai kopi dekat kantor menjadi sebuah opsional yang merugikan bagi si wanita jika melihat keadaan saat ini. Bianca benci, tetapi pada akhirnya ia pun sulit untuk menampik.

Tom si komposer handal.

Tom si pengelana dunia.

Tom si misterius dengan segala liku kehidupannya.

Dan Tom si pembuat kesepakatan dengan Bianca di atas selembar kertas pengubah hidup si wanita.

Berbagai opsi yang telah dipilih Bianca sampai ke titik ini membuatnya ingin menyesal sekilgus bersyukur di waktu yang bersamaan.

Menyesal akan pilihannya, dan bersyukur ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan pada Bianca untuk menghabiskan sisa dua tahun bersama si pria yang kini berada di hadapannya.

Di sisi lain Tom tercenung sebentar, berusaha berpikir keras demi menimpali pertanyaan Bianca yang begitu mengusiknya. Tom pun jelas tahu akan ke mana arah pembicaraan saat ini. Lelaki itu tidak ingin berbohong, tetapi ia jelas ingat bagaimana permasalahan rumit ini berawal dari dirinya sendiri. Ia yang mengajak Bianca untuk terjun ke dalam hidupnya dan mengikatnya tanpa berdosa, tanpa ingin tahu bagaimana perasaan si wanita sesungguhnya.

Pun Bianca hanya diam. Tidak berani untuk mengeluarkan kembali opini sepihaknya yang begitu menyesakkan. Ia menyerah, tetapi untuk mendeklarasikannya begitu sulit. Tatapan lelaki yang begitu menusuk seperti kristal es yang meruncing, bak memoir yang kembali meluap dan memperlihatkan semua siluet yang ia hindari. Siluet milik orang yang sama. Siluet milik Tom Harrison.

Siluet yang terbayang di benak Bianca sungguh berdiri nyata di hadapannya dan sedang menatapnya nyalang, tetapi entah mengapa bagi wanita itu seluruh kenyataan yang ia lihat hanya sebuah kesemuan yang begitu mendera. Tom hanya obyek yang begitu jauh di pandangan si wanita meski mata si pria yang memandangnya, tubuh si pria yang berdiri tegak di bawah kanopi bersamanya, aroma khas si pria yang begitu menguasai indra penciumannya, dan seluruh hal milik si pria.

Tom begitu jauh, lantaran kenyataan yang menyakitkan mengatakan bahwa lelaki itu jelas bukan milik Bianca.

Bianca lelah.

Pun ia tak bisa meneruskan sisa dusta yang mengikat mereka dan ingin bebas, meski hatinya menorehkan luka lebar atas lelaki itu.

“Lalu, aku harus bagaimana, Bi?”

Bagaimana? Bianca juga tak tahu apa yang harus ia lakukan jika berada di posisi lelaki itu. Lantas apakah Bianca harus kembali menuruti Tom?

Bianca jelas tahu Tom telah menaruh hati pada wanita masa lalu sejak lama dan masih menaruhkan hatinya di sana, di benak wanita masa lalu itu. Kenyataan sudah jelas, lantas ingin bermain drama sandiwara sampai kapan? Ini jelas bukan opera sabun yang sering muncul di televisi.

“Sungguh, aku pikir perlahan kau akan mengerti, Tom. Tapi ternyata tidak semudah itu,” sahut Bianca lagi setelah diam. “Jadi lebih baik, mari kita selesaikan ini.”

Ini memang harus diakhiri. Ini harus usai. Bianca siap terluka demi meluruskan seluruh fakta dan akan berusaha menyembuhkan lukanya meski butuh waktu. Ia siap pada hidupnya yang akan mulai dibayang-bayangi sisa kenangan yang terputar layaknya rol film usang. Ia siap memendam rindu pada Tom sepanjang hidupnya.

Sisa harapan Bianca pada Tom harus segera diselesaikan dan membiarkan Tom bahagia dengan jalannya sendiri.

Tangan Bianca terulur menyerahkan sebuah amplop cokelat besar dan secarik kertas ke hadapan pria di hadapannya. “Ayo kita akhiri sandiwara menyedihkan ini dan hapus margamu dari namaku, Tuan Harrison.”[]

-fin.

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s