[Orifict] 25

da66ca399c243159563141399d6d0535

Written by Airly © 20170426

slice of life, fluff

#nowplaying IU (feat. G-Dragon) – Pallete

[]

Apa kau bahagia menjadi usia 25 tahun?

.

Dua puluh lima tahun.

Merupakan seberapa lama waktu yang telah aku lakukan untuk bernapas dan menikmati embusan unsur oksigen di dalamnya. Beribu rasa syukur selalu kupanjatkan ketika kelopak mataku terbuka untuk bangun di waktu fajar menjelang, dan ketika manik terasa berat untuk terlelap di waktu jarum pendek jam dinding hendak menuju dini hari. Semua rasa syukur kulakukan sebagai bentuk kepercayaanku bahwa Tuhan tak pernah tidur untuk hamba-Nya semacam diriku.

Menginjak masa dewasa dengan matang memang menjadi waktu dambaan untuk impian yang harus segera dicapai. Kendati begitu, tidak semua dapat tercapai pun merupakan sebuah kewajaran, lantaran seperempat abad termasuk waktu seumur jagung untuk mengecap manisnya kesuksesan.

Oh yeah.

Sederet daftar impian yang dirangkai sewaktu sekolah tidak semuanya dapat dicapai atau bahkan tidak ada sama sekali yang bisa diraih. Katakanlah bila aku kecewa, marah, bahkan menyalahkan takdir lantaran merasa iri pada orang-orang yang kukenal begitu merasakan nikmatnya mencapai impian. Tetapi, apa yang bisa kulakukan? Takdir begitu bermain meski ku tak menginginkannya karena Tuhan tahu benar apa yang terbaik untukku.

“Mereka beruntung, ya? Bisa menikah di umur 25 dengan bahagia.”

Terdengar gumaman singkat dari sosok lelaki di sebelahku yang sontak disetujui olehku dengan anggukan.

Aku ingat, beberapa waktu lalu ketika pulang dari kantor kotak posku penuh dengan kartu undangan. Mengingat bahwa orang-orang yang mengirimiku undangan pernikahan adalah teman-teman sebayaku. Termasuk yang ini.

“Kau tidak ikut mengincar bunga?”

Mau tak mau, aku menoleh ke arahnya dan baru kali pertamanya melihat parasnya. Garis wajahnya tegas, bermata kecil di balik kacamatanya dan kulitnya seputih susu. Membuatku segera menyimpulkan bahwa aku belum mengenalnya dan hanya menjawabnya dengan gelengan pelan.

Kembali fokus pada upacara pernikahan yang kini memasuki sesi melempar bunga. Konon, jika salah seorang tamu mendapatkan bunga dari sang pengantin pernikahan akan mendapat giliran menikah lebih cepat.

“Menurutmu, apa kau bahagia menjadi usia 25 tahun?”

Bersamaan dengan bunga yang telah melambung tinggi, pikiranku ikut melayang dan membiarkan pertanyaan itu terngiang. Apa kau bahagia menjadi usia 25 tahun?

Ibarat reka ulang, memoarku kembali terulas jelas. Di umur 12 tahun, aku telah kebal dengan cacian orang-orang dan pembullyan yang tiada henti. Di umur 18 tahun, aku mensyukuri hidupku meski harus menahan isak tangis setiap malam lantaran terlalu merindukan ayahku yang telah pergi menuju alam baka dengan bahagia. Di umur 19 tahun, aku begitu ingin menyalahkan takdir lantaran jalan hidup yang tak sesuai dengan ekspektasi, dan ketika melihat orang-orang yang dulu andil dalam membully kini begitu sukses dengan jalannya sendiri membuatku rasanya begitu dendam. Di umur 22, kebahagiaan bagaikan sebuah keabadian karena aku lulus dengan nilai terbaik dan berhasil mendapatkan pekerjaan dengan cepat, membuatku segera memilih untuk selalu menyisihkan uangku untuk ditabung dan diberikan pada ibuku.

Mencapai usia 25 tahun memang sebuah hadiah yang menakjubkan karena berhasil untuk bertahan sampai saat ini. Di usia matang ini memang menjadikan melihat pandangan hidup dari berbagai sisi dan kedewasaan sesungguhnya bukan dilihat dari usia, melainkan pola pikirnya. Membuatku mulai paham mengenai 25.

“Entahlah,” ungkapku. “Banyak hal yang tak bisa kuraih selama hidupku.”

“Kau tidak tahu ya, tidak semua orang yang telah meraih impiannya itu adalah yang terbaik. Menikmati partikel oksigen sampai di usia 25 adalah keajaiban yang harus disyukuri karena tidak semua orang bisa melalui rintangan kehidupan di usia ini,” tutur lelaki itu.

Keajaiban.

Lalu, aku mulai membayangkan kehidupan bagaikan sebuah kanvas putih bersih dan bermacam-macam jenis alur hidup telah tertata rapi dalam sebuah palet takdir. Di usia 25 ini membuatku terbayang betapa penuhnya kanvas kehidupan yang telah diwarnai oleh perjalanan hidup sehingga menjadikan kanvas yang mencerminkan pemiliknya.

Sekarang aku mengerti.

Aku berjalan menuju sepasang pengantin baru yang kini tersenyum bahagia padaku.

“Selamat ya!” ucapku dengan riang.

“Terima kasih, Violet! Terima kasih juga kau sudah datang! Oh, by the way kenapa kau tak ikut sesi melempar bunga? Siapa tahu kau yang mendapatkan bunga dariku dan segera menikah, hehehe,” ceriwis si pengantin wanita berkulit eksotis dengan warna cokelatnya. Shawn namanya.

Mau tak mau, aku hanya tersenyum kikuk. “Aku belum punya pacar untuk diajak menikah kok.”

“Lalu lelaki temannya Matthew yang sedari tadi bersamamu itu siapa kalau bukan pacar?” tanya Shawn yang membuatku bingung.

Secepat kilat, aku menoleh ke arah Matthew, si pengantin pria yang sedang asyik berbincang-bincang dengan sosok lelaki tinggi berkulit putih dan berkacamata itu. Lelaki yang sejak tadi mengajakku mengobrol mengenai 25.

“Aku tidak terlalu mengenalnya, Shawn,” jelasku. “Oh ya, maafkan aku ya. Aku tak bisa berlama-lama di sini, ibuku ingin aku cepat pulang.”

“Begitukah?” ungkap Shawn, terdengar nada kecewa. Namun ia segera mengulas senyum. “Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi, kalau ada berita kau akan cepat menikah, kau harus undang aku sebagai orang pertama.”

Entah mengapa, ucapan Shawn seperti sebuah ramalan yang akan terjadi padaku secara sungguhan. Jadi aku hanya tersenyum. “Baiklah. Matthew, aku pulang dulu ya!”

Matthew yang sibuk mengobrol segera mengalihkan pandangannya ke arahku dan tersenyum sambil melambaikan tangannya. “Hati-hati!”

Aku mulai berjalan keluar dari pesta outdoor itu dan berjalan menuju gerbang. Dari lokasi prosesi pernikahan ke halte tidaklah jauh, jadi aku memilih untuk berjalan sebentar.

“Vio!”

Aku menoleh dan mendapati sosok lelaki berkacamata lagi. Sosok yang sama dengan orang yang mengajakku mengobrol tadi, dengan tubuh yang menjulang tinggi ketika berhadapan denganku.

“Kalau di usia 25 ini kau diajak menikah olehku, apa kau mau menerimanya?”

Apa?

“Menikah?” tanyaku heran.

Lelaki itu mengangguk sambil mengulas senyumnya. “Tidak buruk ‘kan, Goldie Violet?”

Ajakan menikah. Sekarang aku pun mulai merasa ucapan Shawn barusan akan menjadi nyata. Ungkapan mengenai ucapan adalah doa ternyata benar sungguhan.

Padahal rasanya hanya sepintas mengobrol mengenai kehidupan 25, tetapi dengan berbagi opini barang sedikit menghasilkan rasa yang seperti telah mengenal selama beberapa tahun belakangan.

“Oh ya, kalau kau merasa belum kenal denganku, aku beritahu. Aku Oh Sehun.”

Oh Sehun.

Tunggu. Dia dulu teman sekelasku di sekolah menengah ‘kan?[]

-fin.

(940 words.)

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s